Anggota DPR RI Anis Byarwati turut memperingati Hari Kartini yang jatuh tiap 21 April. Menurutnya, nama Raden Ajeng Kartini senantiasa hadir dalam ingatan kolektif bangsa. Namun, Kartini bukan sekadar simbol perjuangan perempuan.
“Ia adalah suara nurani yang mengingatkan bahwa kemajuan bangsa bertumpu pada pemuliaan manusia melalui pendidikan, akhlak, dan kualitas kehidupan,” ujar Anis dalam keterangan tertulis yang diterima wbindonesia.com di Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Anis menegaskan Kartini hidup dalam keterbatasan zamannya. Akses pendidikan sangat terbatas, ruang gerak perempuan dibatasi adat, dan kesempatan berkembang tidak terbuka luas. Namun dari ruang sempit itulah lahir gagasan besar: bahwa manusia memiliki hak untuk tumbuh melalui ilmu dan kemuliaan budi.
“Dalam Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini menegaskan pentingnya pendidikan sebagai jalan membangun peradaban, “ jelas Politisi Fraksi PKS ini.
Hari ini, tambahnya, kemajuan pendidikan menunjukkan perkembangan yang patut disyukuri. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 menunjukkan bahwa Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia 7–12 tahun telah mencapai lebih dari 99 persen, dan pada usia 13–15 tahun berada di kisaran 95 persen. Bahkan pada kelompok usia 16–18 tahun, partisipasi pendidikan terus meningkat mendekati 80 persen. Ini menunjukkan bahwa akses pendidikan dasar dan menengah telah semakin merata.
World Bank dalam Indonesia Country Gender Assessment juga mencatat bahwa Indonesia telah mencapai paritas dalam pendidikan dasar, artinya anak laki-laki dan perempuan memiliki peluang yang relatif setara untuk mengakses pendidikan pada jenjang awal.
“Selain itu, angka partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi dalam beberapa tahun terakhir juga menunjukkan tren meningkat, bahkan di sejumlah wilayah telah melampaui laki-laki,” tambah Anggota Komisi XI DPR RI ini.
Capaian ini patut diapresiasi sebagai wujud nyata dari gagasan Kartini yang menempatkan pendidikan sebagai kunci kemajuan.
“Namun, pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah pendidikan tersebut telah menghadirkan kualitas dan kemanfaatan?,” tanya Wakil rakyat dari Dapil Jakarta Timur itu.
Namun, ia menegaskan, kemajuan tidak cukup diukur dari angka partisipasi. Data BPS juga menunjukkan bahwa rata-rata lama sekolah perempuan masih berada di kisaran 8–9 tahun, yang berarti sebagian belum menyelesaikan pendidikan menengah secara utuh.
Di sisi lain, terdapat kesenjangan antarwilayah, terutama antara perkotaan dan perdesaan, yang menunjukkan bahwa pemerataan kualitas masih menjadi tantangan.
Dalam perspektif yang lebih luas, kemajuan perempuan perlu dilihat dari kualitas peran dalam kehidupan. Pertama, kualitas pendidikan yang membentuk generasi berilmu dan berakhlak. Kedua, ketahanan keluarga, di mana perempuan berperan sebagai pendidik pertama. Ketiga, kesehatan ibu dan anak sebagai fondasi kualitas manusia. Keempat, kontribusi sosial dalam membangun masyarakat.
Realitas hari ini menunjukkan bahwa kemajuan telah terjadi, tetapi belum sepenuhnya merata. Masih terdapat kesenjangan kualitas pendidikan, tantangan dalam menjaga keseimbangan peran keluarga dan sosial, serta kebutuhan untuk memperkuat nilai dalam arus modernitas.
“Di sinilah relevansi Kartini menjadi penting. Ia tidak hanya mengajarkan pentingnya membuka akses, tetapi juga menjaga arah. Kemajuan tanpa nilai akan kehilangan makna, sementara nilai tanpa kemajuan akan tertinggal,” tambah Doktor Ilmu Ekonomi dari Undip ini.
Kartini memberi teladan bahwa perubahan dimulai dari pemikiran, keteguhan, dan kesadaran akan tanggung jawab. Ia membuka jalan, tetapi jalan itu harus terus dijaga dan disempurnakan.
Pada akhirnya, Kartini bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan amanah yang harus dilanjutkan. Kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari capaian lahiriah, tetapi dari kualitas manusia dan nilai yang dijaganya.
Selama pendidikan terus dimuliakan, keluarga terus dikuatkan, dan nilai tetap dijaga, maka semangat Kartini akan tetap hidup—sebagai cahaya yang menerangi perjalanan peradaban Indonesia.


