Anggota Komisi VI DPR, Budi Sulistyono alias Kanang, menekankan pentingnya orientasi pasar dalam penyaluran permodalan bagi pelaku UMKM ultramikro agar pembiayaan yang diberikan benar-benar berdampak pada keberlanjutan usaha masyarakat. Menurutnya, dukungan pembiayaan tidak cukup hanya mendorong masyarakat berproduksi, tetapi juga harus dibarengi dengan perhitungan pasar agar produk yang dihasilkan bisa terserap dan laku dijual.
Hal itu disampaikan Kanang saat mengikuti rapat bersama jajaran Danantara, PT Permodalan Nasional Madani (PNM) dan PT Pegadaian (Persero) di Kota Bengkulu, Bengkulu, Jumat (10/4/2026). Ia mengingatkan, lembaga yang menyalurkan pembiayaan seperti Pegadaian, PNM, maupun Danantara, perlu memastikan bahwa dana yang dilepas benar-benar terhubung dengan kebutuhan pasar.
“Ya, jadi ini hubungannya dengan permodalan. UMKM ultramikro yang hubungannya dengan produksinya. Nah, yang pertama ya saya sarankan apabila memberikan pinjaman atau berupa gadai atau berupa apapun, itu orientasinya market. Tidak hanya mendorong masyarakat untuk memproduksi, tapi bagaimana kita yang melepas daripada dana itu juga melihat orientasi pasar,” ujar Politisi Fraksi PDIP tersebut.
Ia menegaskan, persoalan utama yang kerap muncul dalam penguatan UMKM adalah ketika masyarakat sudah menerima pembiayaan dan sibuk berproduksi, tetapi barang yang dihasilkan tidak terserap oleh pasar. Kondisi itu, kata dia, justru berpotensi menimbulkan persoalan baru bagi pelaku usaha kecil.
“Sehingga produk pro yang dihasilkan oleh UMKM tersebut juga dimaui pasar. Laku, jangan sampai hanya sekedar bagaimana masyarakat menerima duit sibuk memproduksi, tapi tidak laku. Ini jadi masalah. Maka market harus mau,” katanya.
Selain menyoroti pentingnya orientasi pasar, Legislator yang akrab disapa Kanang itu juga mendorong agar Pegadaian, PNM, dan Danantara melihat peluang kerja sama dengan KDMP atau Koperasi Desa Merah Putih. Menurut dia, keberadaan KDMP dapat menjadi ruang kolaborasi yang konkret untuk mendekatkan layanan usaha dan pembiayaan kepada masyarakat desa, termasuk pelaku UMKM.
Ia menjelaskan, KDMP memiliki infrastruktur awal yang bisa dimanfaatkan, mulai dari gedung hingga sarana pendukung operasional. Karena itu, potensi kerja sama dengan jaringan gerai yang besar dinilai dapat membuka ruang pengembangan usaha baru sekaligus memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat desa.
“Saya justru ingin baik itu Danantara, Pegadaian, PNM melihat peluang terhadap KDMP atau Kooperasi Desa Merah Putih. Karena ini adalah peluang. Kenapa saya bilang peluang? KDMP itu gedung sudah ada, mobil sudah ada, kemudian motor sudah ada, roda tiga sudah ada,” ujarnya.
Menurutnya, peluang terbesar terletak pada pemanfaatan jaringan 80 ribu gerai yang dapat dikerjasamakan untuk memperkuat ekosistem usaha desa. Dengan kolaborasi itu, lembaga pembiayaan dinilai tidak hanya hadir sebagai penyalur dana, tetapi juga sebagai mitra usaha masyarakat yang ikut menggerakkan roda ekonomi desa.
“Tapi mau diapain ini? Nah disitulah mestinya ada 80 ribu gerai. Ya 80 ribu gerai ini yang mestinya ikut apa ya, mau diapain ini? Sejauh mana saya akan mampu bekerjasama dengan KDMP, dengan masyarakat, sehingga masyarakat yang notabene juga di desa ada UMKM, saya bisa bekerjasama. Saya bisa melakukan usaha Pegadaian disitu,” tuturnya.
Kanang menilai, kolaborasi berbasis peluang pasar menjadi hal paling utama dalam mempertemukan kepentingan lembaga pembiayaan dengan kebutuhan masyarakat desa. Ia mempertanyakan mengapa peluang kerja sama yang besar itu belum dimaksimalkan, padahal dinilai dapat sangat membantu pengembangan UMKM di tingkat akar rumput.
“Nah ini yang paling utama. Sehingga saya berharap PNM maupun Pegadaian maupun Danantara melakukan orientasi pasar, peluang. Kira-kira begitu. Berarti kolaborasinya mencari peluang, market. Itu yang paling utama. Nah marketnya dimana? Ada 80 ribu gerai yang punya peluang dikerjasamakan. Kenapa nggak dilakukan?” kata dia.

